Rabu, 08 Januari 2025

Bagaimana rasanya menjadi manusia terkuat, ibu?

   

Semua orang punya luka, dengan memahami kalimat sederhana itu aku tahu kalau ibu juga menyimpan luka di suatu tempat.

Bagaimana rasanya menghabiskan seumur hidup dengan menjadi orang lain yang bukan diri ibu sepenuhnya?

Menjadi seorang anak, adik, kakak, istri, menantu, lalu ibu. Selalu memiliki peran untuk mengurus dan memperdulikan orang lain bahkan tanpa sadar jadi melupakan diri ibu sendiri.

Berapa mimpi yang ibu kubur hanya agar keinginan orang lain terpenuhi?

Saat ibu merasa ini waktunya terbang bebas, kakek dan nenek meminta ibu untuk segera menikah karena “umur ibu sudah cukup.”

Saat ibu menjalani kehidupan baru yang belum pernah ibu masuki, mencoba peruntungan dengan peran baru, keluarga bapak meminta ibu untuk bisa menempatkan diri.

Saat ibu ingin beristirahat karena lelah dengan banyak tekanan, anak – anak ibu hadir dan membuat ibu memiliki satu peran tambahan disaat mungkin ibu sudah lelah dengan banyak peran sebelumnya.

Kondisi keluarga baru yang tidak stabil mengharuskan ibu bekerja dengan keras, memaksa ibu mengerahkan tenaga yang seharusnya sudah tidak ada lagi. Entah bagaimana ibu bisa sekuat itu.

Ibu selalu jadi yang pertama bangun di pagi hari. Pergi ke pasar sebelum matahari muncul, membersihkan dapur yang dipakai semalam dan memasak untuk sarapan. Ibu selalu seperti itu, tidak membiarkan anak ibu keluar rumah sebelum menyelesaikan makannya. Bahkan berinisiatif untuk menyuapi kalau dirasa anak ibu akan melewatkan makan karena terburu – buru.

Setelahnya ibu masih harus pergi bekerja. Baru pulang sore harinya, bahkan tanpa istirahat ibu mulai menyiapkan makan malam. Ibu selalu sesibuk itu, menjadi yang paling akhir menutup hari untuk beristirahat. Apa yang membuat ibu begitu kuat?

 Semakin lama keadaan mulai membaik dan ibu tidak perlu bekerja sekeras dulu, namun umur ibu juga bertambah. Pekerjaan yang berkurang tidak membuat ibu merasa semakin baik. Ibu tetap saja kelelahan. Ibu yang dulu sangat kuat dan selalu menerima apapun yang datang lalu menghadapinya dengan tenang mulai mengeluh.

Anak – anak ibu semakin besar, mimpi yang dulu ibu kubur mulai ibu gali dan titipkan ke pundak anak yang telah ibu rawat sedari masih belum bisa apa -apa sampai tetap saja merepotkan walau mulai beranjak dewasa.

Sayangnya, anak – anak itu tidak bisa tumbuh menjadi seperti yang ibu inginkan. Tidak bisa sekuat ibu, secakap ibu, secepat ibu, semandiri ibu. Anak ibu perlu banyak dimarahi, diomeli, bahkan terkadang di pukul.

Anak – anak ibu selalu membuat ibu kesal karena tidak bisa menyelesaikan tugas sederhana dengan sempurna. Selalu lupa dengan apa - apa yang ibu minta untuk lakukan, bersikap semaunya dan tidak bisa diatur, padahal ibu semakin mudah lelah dan kehilangan tenaga, tapi anak – anak ibu sangat suka menguji kesabaran ibu.

Emosi yang ibu tahan saat menjadi seorang anak, kakak, adik, istri, dan menantu mulai terluapkan. Apakah anak ibu yang sering gagal, sering lupa dan selalu menyebalkan adalah orang yang cocok untuk meluapkan hal itu?

Ibu, katanya, “hanya karena kamu tidak dicintai seperti yang kamu mau, bukan berarti mereka tidak mencintaimu dengan semua yang mereka punya.” Beberapa tahun terakhir aku menyadari kalimat itu secara utuh. Ibu tidak dicintai dengan cara yang ibu mau, karena itu, ibu pasti juga bingung bagaimana cara mencintaiku seperti yang aku mau. Ibu hanya melakukan yang terbaik yang ibu bisa, yang ibu mampu. Walau itu bukan cara yang aku mau, tapi ibu tetap memberikan segalanya. Tuntutan, desakan dan permintaan yang ibu ucapkan adalah harapan agar anak ibu bisa bahagia dengan jalannya sendiri, tidak perlu bergantung dengan orang lain. ibu hanya ingin memastikan kalau anak ibu bisa tetap hidup, walau harus melewati hari tanpa ibu.

Aku mencoba memahami, kemudian memaklumi, karena aku tidak sanggup bahkan hanya untuk sekedar membayangkan menjadi orang seperti ibu. Aku akan sangat kelelahan juga kewalahan, sebab, aku bukan ibu.

Ibu, aku lelah. Menjadi seorang anak, lalu seorang murid, seorang pendengar tanpa pernah bisa di dengar. Itu menguras energi.

Aku tidak suka kehidupan ini. Karena aku tidak sekuat ibu, aku mudah menyerah dan putus asa. Rasanya hanya untuk bertahan pun sangat sulit. Keadaan monoton ini bukan apa yang aku bayangkan saat aku kecil dulu. Jadi bisakah aku dapat sedikit dukungan dari manusia terkuat yang aku tahu? Yang bahkan masih bisa kokoh berdiri walau semua peran yang dia jalani mungkin bukan sesuatu yang dia inginkan. Orang yang selalu bisa mengatasi masalah hidup yang datang walau sebenarnya butuh istirahat. Bisakah aku di peluk dan di beri kalimat penenang kalau semuanya akan baik – baik saja karena aku masih punya ibu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar