Semua orang punya luka,
dengan memahami kalimat sederhana itu aku tahu kalau ibu juga menyimpan luka di
suatu tempat.
Bagaimana rasanya
menghabiskan seumur hidup dengan menjadi orang lain yang bukan diri ibu
sepenuhnya?
Menjadi seorang anak,
adik, kakak, istri, menantu, lalu ibu. Selalu memiliki peran untuk mengurus dan
memperdulikan orang lain bahkan tanpa sadar jadi melupakan diri ibu sendiri.
Berapa mimpi yang ibu
kubur hanya agar keinginan orang lain terpenuhi?
Saat ibu merasa ini
waktunya terbang bebas, kakek dan nenek meminta ibu untuk segera menikah karena
“umur ibu sudah cukup.”
Saat ibu menjalani
kehidupan baru yang belum pernah ibu masuki, mencoba peruntungan dengan peran
baru, keluarga bapak meminta ibu untuk bisa menempatkan diri.
Saat ibu ingin
beristirahat karena lelah dengan banyak tekanan, anak – anak ibu hadir dan
membuat ibu memiliki satu peran tambahan disaat mungkin ibu sudah lelah dengan
banyak peran sebelumnya.
Kondisi keluarga baru
yang tidak stabil mengharuskan ibu bekerja dengan keras, memaksa ibu
mengerahkan tenaga yang seharusnya sudah tidak ada lagi. Entah bagaimana ibu
bisa sekuat itu.
Ibu selalu jadi yang
pertama bangun di pagi hari. Pergi ke pasar sebelum matahari muncul,
membersihkan dapur yang dipakai semalam dan memasak untuk sarapan. Ibu selalu
seperti itu, tidak membiarkan anak ibu keluar rumah sebelum menyelesaikan
makannya. Bahkan berinisiatif untuk menyuapi kalau dirasa anak ibu akan
melewatkan makan karena terburu – buru.
Setelahnya ibu masih
harus pergi bekerja. Baru pulang sore harinya, bahkan tanpa istirahat ibu mulai
menyiapkan makan malam. Ibu selalu sesibuk itu, menjadi yang paling akhir
menutup hari untuk beristirahat. Apa yang membuat ibu begitu kuat?
Semakin lama keadaan mulai membaik dan ibu
tidak perlu bekerja sekeras dulu, namun umur ibu juga bertambah. Pekerjaan yang
berkurang tidak membuat ibu merasa semakin baik. Ibu tetap saja kelelahan. Ibu
yang dulu sangat kuat dan selalu menerima apapun yang datang lalu menghadapinya
dengan tenang mulai mengeluh.
Anak – anak ibu semakin
besar, mimpi yang dulu ibu kubur mulai ibu gali dan titipkan ke pundak anak
yang telah ibu rawat sedari masih belum bisa apa -apa sampai tetap saja
merepotkan walau mulai beranjak dewasa.
Sayangnya, anak – anak
itu tidak bisa tumbuh menjadi seperti yang ibu inginkan. Tidak bisa sekuat ibu,
secakap ibu, secepat ibu, semandiri ibu. Anak ibu perlu banyak dimarahi,
diomeli, bahkan terkadang di pukul.
Anak – anak ibu selalu
membuat ibu kesal karena tidak bisa menyelesaikan tugas sederhana dengan
sempurna. Selalu lupa dengan apa - apa yang ibu minta untuk lakukan, bersikap
semaunya dan tidak bisa diatur, padahal ibu semakin mudah lelah dan kehilangan
tenaga, tapi anak – anak ibu sangat suka menguji kesabaran ibu.
Emosi yang ibu tahan saat
menjadi seorang anak, kakak, adik, istri, dan menantu mulai terluapkan. Apakah
anak ibu yang sering gagal, sering lupa dan selalu menyebalkan adalah orang
yang cocok untuk meluapkan hal itu?
Ibu, katanya, “hanya
karena kamu tidak dicintai seperti yang kamu mau, bukan berarti mereka tidak
mencintaimu dengan semua yang mereka punya.” Beberapa tahun terakhir aku
menyadari kalimat itu secara utuh. Ibu tidak dicintai dengan cara yang ibu mau,
karena itu, ibu pasti juga bingung bagaimana cara mencintaiku seperti yang aku
mau. Ibu hanya melakukan yang terbaik yang ibu bisa, yang ibu mampu. Walau itu
bukan cara yang aku mau, tapi ibu tetap memberikan segalanya. Tuntutan, desakan
dan permintaan yang ibu ucapkan adalah harapan agar anak ibu bisa bahagia
dengan jalannya sendiri, tidak perlu bergantung dengan orang lain. ibu hanya
ingin memastikan kalau anak ibu bisa tetap hidup, walau harus melewati hari
tanpa ibu.
Aku mencoba memahami,
kemudian memaklumi, karena aku tidak sanggup bahkan hanya untuk sekedar
membayangkan menjadi orang seperti ibu. Aku akan sangat kelelahan juga
kewalahan, sebab, aku bukan ibu.
Ibu, aku lelah. Menjadi
seorang anak, lalu seorang murid, seorang pendengar tanpa pernah bisa di
dengar. Itu menguras energi.
Aku tidak suka kehidupan
ini. Karena aku tidak sekuat ibu, aku mudah menyerah dan putus asa. Rasanya
hanya untuk bertahan pun sangat sulit. Keadaan monoton ini bukan apa yang aku
bayangkan saat aku kecil dulu. Jadi bisakah aku dapat sedikit dukungan dari
manusia terkuat yang aku tahu? Yang bahkan masih bisa kokoh berdiri walau semua
peran yang dia jalani mungkin bukan sesuatu yang dia inginkan. Orang yang
selalu bisa mengatasi masalah hidup yang datang walau sebenarnya butuh
istirahat. Bisakah aku di peluk dan di beri kalimat penenang kalau semuanya
akan baik – baik saja karena aku masih punya ibu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar